Corona, Isyarah Melaksanakan Puasa Hakikat

Kedahsyatan pandemi Corona benar-benar menggentarkan manusia. Dunia seolah dipaksa untuk diam dan mengentikan semua aktivitasnya. Industri stop, kegiatan keuangan berhenti, aktivitas produksi, distribusi dan konsumsi terhenti sampai pada level terendahnya sepanjang sejarah kehidupan ekonomi manusia modern.

Jika hal yang disebutkan di atas adalah dampak-dampak materialistik, maka Corona juga tidak ketinggalan memberi dampak secara spiritual. Dari dimensi yang paling sunyi, ranah spiritual, Corona telah “membuat” manusia menemukan pesan paling halus terkait hubungan antara khalik dan makhluk. Pelajaran yang selalu ada pada tiap wujud ujian yang ditakdirkan Allah bagi manusia. Sebuah tautan yang menghubungkan antar kekasih yang selalu bersifat meninggikan dan mencahayai pada relung hati kekasih-Nya. Sebuah mekanisme agar perindu selalu mendengar panggilan Kekasihnya.

Sebagaimana disampaikan oleh Syekh Muhammad Irfa’i Nahrawi an-Naqsyabandi, di Pondok Pesantren Kasepuhan Atas Angin, Ciamis, yang bertepatan dengan bulan puasa 1441 H ini. Beliau melihat melalui dimensi esoteris yang lembut. Menyaksikan kelembutan Kasih Sayang Allah, bahkan tepat di dalam kedahsyatan wabah yang sedang menyerang peradaban manusia hari ini.

Sehabis melaksanakan sholat tarweh, malam itu, dalam majelisnya Beliau berkata, “Pandemi Corona ini adalah isyarah bagi kita untuk melaksanakan puasa hakikat (untuk kita lebih menahan dan mengendalikan hawa nafsu/emosi). Mungkin selama ini, kita puasa hanya menahan lapar dan haus saja, belum bisa merasakan apa sebenarnya puasa itu. Dengan pandemi ini, kita menjadi tahu bahwa puasa itu tidak hanya menahan lapar dan haus, tapi lebih dari itu. Misalnya dengan pandemi ini, kita dibukakan mata hati kita, untuk membantu saudara-saudara kita yang kelaparan, yang sebelum pandemi, puasa kita seolah-olah ikut merasakan rasa lapar, tanpa mau peduli sama yang kelaparan.”

Hal ini sejalan dengan fakta begitu banyaknya aksi solidaritas yang bermunculan di tengah pandemi Corona ini. Masyarakat yang memang terkenal dengan semangat gotong-royong yang tinggi ini menunjukkan kapasitas karakter mereka. Mudah menolong dan berbagi.

“Juga yang dulu rajin sholat tarawih di masjid kini juga dilarang tarawih di masjid. Kita jadi tahu sebenarnya di mana keberadaan Tuhan itu. Tuhan bukan di masjid, tapi di hati seorang mukmin. Jadi selama ini puasa kita masih dikuasai hawa nafsu/emosi.” Lanjut beliau.

Kalimat yang mengingatkan kita pada hal yang paling fundamental secara spiritual bahwa mestinya kita tidak perlu keras kepala dan ngeyel hanya untuk mendekat pada Allah dengan memaksa menggelar shalat taraweh berjamaah di masjid-masjid yang mana hal ini hanya akan membahayakan kehidupan manusia, dirinya maupun orang lain. Tuhan selalu hadir dan dekat, yaitu di hati manusi itu sendiri yang bisa diakses dari manapun dan kapanpun ia berada.

“Pandemi Corona ini adalah obat penawar, untuk menghilangkan rasa sebah dalam perut jiwa kita dari aneka urusan dunia yang tidak jelas/tidak menentu, sehingga di kehidupan kita ini, kita tidak bisa merasakan manisnya iman dan nikmatnya islam, yang dibawa Rasul untuk kita sebagai rahmat Allah. Setelah masa pengobatan ini, insya Allah kita akan merasakan manisnya dan nikmatnya kehidupan beragama yang dibawa oleh Rasul untuk kita. Kita akan hidup damai dan bahagia bersama keluarga.” Beliau menerangkan sisi lembut dari pesan dalam pandemi Corona ini.

“Di sini kita berharap, dengan adanya pandemi ini kita bisa sadar tentang kebersamaan, saling menghargai dan bergotong-royong. Karena sesungguhnya tujuan agama itu, untuk memperbaiki akhlak. Sehingga tercipta Islam rahmatan lil alamin. Mari kita semuanya berakit-rakit kehulu bersenang-senang kemudian. Setelah ini, insya Allah kita akan berhari raya bersama.” Beliau sangat menekankan dalam menghadapi kondisi krisis ini.

Di akhir suhbahnya beliau juga berdo’a untuk keselamatan kita semua. “Semoga ampunan, kasih sayang dan ma’unah Allah senantiasa terlimpah kepada kita dan keluarga kita, dengan berkah syafaat Nabiyyir Rahmah Kasyifil Ghummah Sayyidina Muhammad SAW putra Sayyid Abdullah.”

Sebelum mengakhiri suhbah, sekali lagi, Abah menekankan untuk banyak-banyak membaca istighfar, sholawat dan kalimat “Laa illaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin.”

(GA)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan