perguruan

Profil Qashrul Arifin

Perguruan tarekat Qasrul Arifin awal mula didirikan di Dukuh Ploso Kuning Kelurahan Minomartani Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman D.I. Yogyakarta oleh Syekh Muhammad Irfa’i pada tahun 1983 M. Setelah berjalan selama dua puluh tahun perkembangan jamaah tarekat semakin banyak sehingga dirasakan tempatnya semakin tidak menampung lagi. Sedangkan untuk memperluas lahannya mengalami kesulitan karena tidak ada pihak yang bermaksud menjual tanahnya. Maka mulailah pada tahun 2003 M dilakukan persiapan untuk memindahkan kegiatan, khususnya buat pasulukan ke daerah lain yang lebih luas dan mendapat dukungan dari lingkungannya. Maka diperolehlah sebuah lokasi di pedesaan pada dataran tinggi di Kabupaten Ciamis.

Selama tiga tahun lokasi baru pasulukan terus dibenahi hingga berdiri beberapa bangunan zawiyah yang siap digunakan, Pada tahun 2006 M secara resmi tempat pasulukan pindah ke Ciamis ditandai dengan suluk sepuluh hari. Alamatnya di Ciamis. Menempati lahan di perbukitan Sarok Landeuh Desa Darmancaang Kecamatan Cikoneng Ciamis pada ketinggian 600m di atas permukaan laut. Sebuah kawasan hijau yang sejuk dan indah. Lokasi yang digunakan awalnya lima hektar hingga tahun 2011 M telah meluas menjadi enambelas hektar. Tempat baru ini sungguh memenuhi keinginan Syekh sebagai tempat yang memiliki daya dukung lingkungan secara lengkap. Tanaman segala macam telah tumbuh, hingga kebutuhan sayur mayur dan bahan-bahan makanan minimal tercukupi darinya. Pada lahan itu pula terdapat mata air yang memancarkan air dingin sepanjang waktu hingga kebutuhan air pun tidak lagi dikhawatirkan. Daya dukung lingkungan tempat pasulukan harus diperhitungkan secara matang karena melayani lebih dari dua ratus orang sedang suluk selama sepuluh hari empat kali dalam setahun.

Dengan pasulukan yang luas dan panorama yang indah ternyata membuat murid-murid menjadi betah, hingga tak terasa perjalanan suluk telah selesai dilaksanakan selama sepuluh hari.

Rupanya Abah Irfa’i, demikian panggilan akrabnya, cukup puas dengan lokasi baru ini sehingga selang satu tahun kemudian, pada tahun 2007 M Abah bersama keluarga pindah domisili dari Ngaglik Sleman ke Bukit Sarok Ciamis, yang kemudian diberi nama zawiyah Qashrul Arifin Kasepuhan Atas Angin. Di tempat baru ini, pada tahun ini pula Ibu Nyai, Demikian istri Abah biasa dipanggil, wafat dan dimakamkan di zawiyahQashrul Arifin Kasepuhan Atas Angin. Abah menunaikan ibadah haji tahun 2008 M bersama seorang anak putrinya, menggantikan Ibu Nyai yang satu tahun sebelumnya sudah terdaftar dalam waiting list calon jemaah haji di Yogyakarta. Menyertai juga keberangkatan hajinya itu oleh beberapa orang murid-muridnya.

Adapun lokasi lama di Sleman ditempati anak-anak Abah; digunakan secara rutin untuk dzikir tawajuhan setiap selasa siang dan kamis malam Jumat, dan tentunya setiap tahun buat acara hailnya orang tua, yaitu Syekh KHR Nahrawi (w. 1975 M), guru Mursyid Naqsyabandiyah Khalidiyah yang makamnya tidak jauh dari situ (Riwayat hidup Syekh Nahrawi secara garis besar: tahun 1909-1011 M belajar di pesantren Tebuireng kepada Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, tahun 1911-1916 M pergi haji, tahun 1916 – 1920 M mondok di pesantren Krapyak Bantul belajar kepada KH Munawwir, tahun 1921 belajar tarekat pada Syekh Abdul Karim, seorang khalifah dari Syekh Muhammad Hadi Girikusumo, Mranggen, Demak). Zawiyah di Sleman diberi nama Rubath Mubarak Qashrul Arifin Pusat dengan alamat Jl. Ploso Kuning III Minomartani Ngaglik Sleman Yogyakarta.

 

Hadratusyekh M. Nachrawy Annaqsyabandy qs

 

Murabby Ruuhina Hadratus Syekh Muhammad Irfa’i Nachrawy an-Naqsyabandy Quddisa Sirruh al-Hajj adalah nama lengkapnya yang disingkat menjadi MR HSM Irfa’i Nachrawi an-Naqsyabandy QS al-Hajj (lahir 15 Februari 1954 M di Temanggung), adalah Mursyid Naqsyabandiyah Khalidiyah yang gigih dan visioner. Abah Irfa’i ketika membuka perguruan tarekat pada 1983 M boleh dikata dari kilometer nol, sekalipun anak seorang Syekh Naqsyabandiyah Khalidiyah yang kharismatis. Pasalnya orangtua Abah Irfa’i, Syekh Nachrawy (1900 – 1975) yang mulai memangku kemursyidan sejak 1942 M hingga kematiannya, adalah mubalig nomor wahid yang berpindah-pindah tempat tinggalnya dengan tujuan dapat membangun masjid sebanyak-banyaknya, dan tentu sambil mengajarkan tarekatnya. Istilahnya sebagai seorang sufi, Syekh Nachrawi adalah seorang pengembara, demi memuaskan cita-citanya. Dan betul, selama masa pengembaraannya di lima kota dalam kurun waktu 33 tahun Syekh berhasil mendirikan 41 masjid yang hingga kini masih berdiri kokoh. Dan pastilah pada ketika Syekh Nachrawi berada di masjid itu pula Syekh membaiat murid-murid tarekat sehingga jumlah muridnya tidak terhitung. Di masjid-masjid itu pula merupakan tempat dzikir tawajuhan dilaksanakan sehingga pada masjid-masjidnya memiliki ciri khas jendelanya kecil-kecil untuk memudahkan dzikir tawajuhan dilaksanakan.

Rute pengembaraan Syekh Nachrawy dimulai dari Wonosobo (mendirikan 14 masjid) terus ke Magelang (mendirikan 14 masjid) terus ke Sleman (mendirikan 4 Masjid) terus ke Kulon Progo (mendirikan 6 masjid) dan terakhir di Bantul mendirikan 3 masjid. Keberhasilan mendirikan 41 masjid di masa-masa sulit jaman penjajahan hingga munculnya tekanan-tekanan dari PKI sejak 1948-1965 M. harus dicatat sebagai sukses besar dakwah seorang Syekh, yang pada masa kontemporer tidak mungkin lagi ditandingi. Namun dari sudut pandang pembangunan perguruan tarekat boleh dibilang terbengkalai. Sebab hingga wafatnya belum seorangpun diangkat sebagai khalifah. Namun cahaya tarekatnya (baca: cahaya dzikir) tidak ditakdirkan untuk padam. Ternyata ada satu warisan zawiyahnya di Sigedang Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo masih eksis dengan seorang badal-nya yang istiqamah, K.H. Soleh. Rupanya K.H. Soleh mendapat wasiat agar anak-anak Syekh nantinya diajari tarekat dan mengikuti suluk seratus hari. Abah Irfa’i walhasil mampu mengikuti pelajaran KH Soleh hingga taman seratus hari. Abah Irfa’i adalah anak kedua dari istri Syekh Nachrawi ke-6, atau merupakan anak ke-6 dari 13 anak-anak Syekh. Abah Irfa’i selanjutnya mengikuti pelajaran kemursyidan kepada Syekh Salman, penerus zawiyah Syekh KH Manshur di Popongan Klaten dengan suluk empat puluh hari pada tahun 1983 M.

Maka ketika pada tahun 1983 M Abah Irfa’i memulai mengajarkan tarekat di Ploso Kuning Sleman tanpa adanya peninggalan zawiyah dari orangtuanya. Adalah teman-teman waktu muda yang kemudian mula-mula sekali bersedia mengikuti tarekatnya. Dialah Muhammad Jayari dan Muhammad Ashadi penduduk asli Ploso Kuning yang kemudian diangkat sebagai badal generasi pertama. Sampai di situ penulis masih teringat ketika pada bulan November 1984 M penulis lulus S1 dari Fakultas Filsafat UGM, lalu mengadakan syukuran secara sederhana di Yogya, yang memimpin doa syukur adalah Abah Irfa’i. Itulah awal-awal penulis mengenalnya, namun belum lagi mengenal tarekatnya. Sejak awal memangku kemursyidan Abah Irfa’i terlihat all out mengajarkan tarekat dan membuat murid-murid baru tanpa pandang bulu. Maksudnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Abah Irfa’i tidak berminat dengan aktifitas lain selain mengajarkan tarekat. Setiap ada waktu luang lebih baik digunakan untuk mengunjungi murid-muridnya yang tersebar lebih banyak di luar kota. Hal ini ternyata semakin menambah semangat para murid untuk lebih giat dalam amalan tarekat. Murid yang dikunjungi ada di Karawan dan di Jakarta, rupanya terkait dengan keinginan Abah lebih mendorong kebangkitan tarekat di daerah yang notabene memiliki daya dukung sumber keuangannya cukup kuat. Memanglah banyak murid-murid di kedua kota itu yang menjadi pengusaha mapan. Hasilnya pun konkrit, karena hingga kini di Karawang jumlah murid tarekatnya lebih banyak dibandingkan dengan muridnya yang di Yogyakarta. Namun murid terbanyak ada di Temanggung, di tanah tumpah darahnya. Di Temanggung tidak semua merupakan murid baru, melainkan sebagian daripadanya adalah murid dan keluarga murid peninggalan Syekh Nachrawi, Bapak Syekh Irfa’i sendiri.

  • Abah Irfa’i menerima dengan terbuka siapapun orangnya yang bersedia menjadi murid tarekat. Walhasil muridnya datang dari beragam latar belakang sosial ekonomi, bahkan datang dari latar belakang ‘abangan’ dakan arti sangat awam terhadap agama, maupun dari keluarga Muhammadiyah yang dikenal memiliki stigma anti tarekat. Dengan melalui jurus-jurusnya, Abah berhasil menarik banyak murid dari kalangan mahasiswa yang terbukti di kemudian hari sangat mewarnai energi kebangkitan tarekat.

Hadratusyekh Muhammad Irfa’i Nachrawy Annaqsyabandy qs

Perkembangan Perguruan Tarekat

Sejauh ini Abah Irfa’i belum mengangkat khalifah, ini disebabkan belum adanya murid yang mencapai derajat mencukupi syarat secara keilmuan maupun kedalaman ruhaniyah, sebagaimana yang ditentukan. Namun telah mengangkat banyak badal yang kebanyakannya justeru tinggal di luar kota. Mereka diberi tugas untuk mendirikan zawiyahdan menjadi perwakilan dalam urusan pelayanan kepada murid-murid tarekat yang terdekat. Oleh karena itu mereka disebut muassis yang berarti kepala perwakilan dari Pusat di Yogya dan Ciamis, dan harus melapor secara rutin setiap perkembangan dalam mengelola zawiyah. Badal juga punya tugas bergiliran untuk mengurus acara-acara yang diagendakan untuk dilaksanakan oleh perguruan. Acara utama adalah suluk dan acara haul, ditambah beberapa acara insidental.

Pada perguruan Qashrula Arifin suluk dilaksanakan sebanyak emapt kali sebagai berikut:

  1. Tanggal 1 s/d 10 bulan Muharram

  2. Tanggal 20 s/d 30 bulan Muharram

  3. Tanggal 1 s/d 10 bulan Rajab

  4. Tanggal 20 s/d 30 bulan Rajab

Daftar muassis/badal dari awal hingga kini selengkapnya sebagai berikut:

  1. Muhammad Jayari, Sleman (w. 2004 M)

  2. Muhammad Ashadi, Sleman

  3. Drs, Ahmad Yusuf, Bantul

  4. Ahmad Subakir, Temanggung (w. 1995)

  5. Ahmad Sukem, Temanggung (wafat)

  6. Kiai Mbah Dar, Temanggung (wafat)

  7. Kiai Muhammad Halimi, Temanggung

  8. Kiai Abdul Malik Affandi, Temanggung

  9. Kiai Abdul Hafidh, Temanggung

  10. Kiai Ahmad Hambali, Temanggung

  11. Kiai Mustofa, Temanggung

  12. Kiai Abu Yazid, Temanggung

  13. Kiai Zaenal Arifin, Wonosobo

  14. Drs. KH Abdul Azis, Kudus

  15. KH. Syamsi Dhuha, Karawang (w. 2017)

  16. H. Ojo Abdul Hadi, Karawang (wafat)

  17. H. Jirjis Fughunawi, SH, Bangka Belitung

  18. R. Ruhullah Taqi Murwat, M.HI, zawiyahPusat Yogya

  19. R. Haibatullah Mahdatul Haq, zawiyahPusat Yogya

  20. R. Saefullah Tsani Muqaddas, zawiyahPusat Ciamis

  21. R. Ayatullah Atabiq Janka Dausat, zawiyahPusat Ciamis

  22. Ustad Suharis, SH, Jakarta

  23. Ustad Wawan Kurniawan

Mengenai fungsi zawiyah diatur sebagai berikut:

  1. Untuk tawajuhan selapanan mengumpulkan thaifah-thaifah di wilayahnya.

  2. Untuk tawajuhan selasanan bagi jamaah tarekat

  3. Tempat majlis taklim setelah tawajuhan selapanan dan waktu-waktu tertentu.

  4. Tempat yasinan pada malam jum’at terbuka untuk umum.

  5. Tempat dzikir amal khatam pada tiap jumat sore atau malam jumat

  6. Tempat baca awrad kitab dalail khairat (oleh zawiyah tertentu saja) pada malam senin.

  7. Tempat menggelar hajatan bagi jamaah

  8. Tempat rapat membahas masalah keagamaan dan kemasyarakatan.

Status zawiyah dua macam: ada yang didirikan atas nama milik Syekh Mursyid. Namun ada pula yang didirikan oleh perorangan muassis setempat. Di bawah zawiyah terdapat kelompok-kelompok kecil yang diberi nama thaifah memiliki fungsi mirip dengan zawiyah dengan lingkup yang lebih kecil.

Daftar pemegang tongkat thaifah dan areanya sebagai berikut.

  1. Ustadz Abdul Rasyid MT, Pangkal Pinang, Babel

  2. Ustadz Wawan Kurniawan, Depok

  3. Ustadz Ahmad Arifin, Cikarang Kabupaten Bekasi

  4. Ustadz Namsur, Karawang Timur

  5. Ustadz Abdul Fatah, Pabayuran Kabupaten Bekasi

  6. Ustadz H. Ir. Ahmad Plato, Kodya Yogyakarta (w. 2012 M)

  7. Ustadz Abdul Karim, Kabupaten Semarang

  8. Ustadz Guntur Subarkah, Magelang

  9. Ustadz Ahmad Khairudin, Temanggung

  10. Ustadz Ahmad Musonep, Temanggung

Melalui penataan kelembagaan sestem sel-sel berjejaring dengan mengangkat dalam jabatan sebanyak mungkin murid tarekat, dirasakan lebih memberdayakan rasa khidmat kepada guru Syekhnya. Fungsi pelayanan kepada anggota tarekat untuk selalu menegakkan amaliyah tarekatnya, dirasakan menjadi lancar khususnya yang menurut aturannya dilaksanakan berjamaaj. Dan tentu hal ini semakin memperkuat pola penyebaran tarekat secara geografis. Seberapa besar sumbangan zawiyahdan thaifah dalam memasok murid-murid tarekat.

Bagian lain yang dikelola dibawah badal pusat (putra Syekh) adalah bagian redaktur/penerbitan yang ditangani para mahasiswa-mahasiswa yang energik. Tugasnya adalah menerbitkan karya tulis Syekh yang digunakan untuk buku acuan para jurid dalamn amalan tarekat serta berisi pengembangan wawasan bidang akhlaq sufi. Beberapa buku berisi syair-syair dalam bahasa Arab maupun bahasa jawa untuk dinyanyikan bersama-sama pada saat-saat istirahat acara suluk. Redaktus juga menyiapkan kalender yang bersifat eksklusif setiap tahun. Banyak hal lain yang dikerjakan murid-murid kalangan muda tersebut untuk mensosialisasikan perguruan tarekat. Misalnya, mencetak stiker Naqsyabandiyah, kaos-kaos oblong dan rompi yang daripadanya duperkenalkan identitas kaum sufi.

Putra Mursyid dan para Muassis pada acara Haul Hadratusyaikh M Nachrawi

 

Cara Rekrutmen Murid Baru dan Perang Muassis/Badal

Pada dasarnya murid tarekat datang sendiri dengan sukarela untuk mengikuti jalan spiritual tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Artinya, untuk rekrutmen masuknya murid baru disana tanpa dilakkan usaha yang terprogram maupun dilakukan evaluasi. Namun demikian dapat dijelaskan dari mana asal-usul murid baru dan tahapan-tahapan yang lazim dilalui sampai dengan dilakkan baiat sebagai tanda secara resmi seorang murid duterima menjadi anggota tarekat (ahl thariqat). Hal ini adalah standar baku di tarekat pada umumnya.

Adapun media yang terjadi pada Perguruan Tarekat Qashrul Arifin dalam masalah penerimaan murid baru diilustrasikan sebagai berikut:

  1. Yogyakarta adalah kota pelajar. Bukan hanya terletak di dalam kota, namun kini di seluru pelosok Yogyakarta dipenuhi perguruan tinggi, khususnya swasta. Lebih-lebih kabupaten Sleman yang dari awalnya menjadi tempat tiga perguruan tinggi negeri terbesar, yaitu UGM, UNY dan UIN. Kini perguruan tinggi swasta terbesar juga membangun pusat-pusatnya di Daerah Sleman, semisal UII. Maka di seantero pelosok Sleman dijadikan kos atau asrama mahasiswa. Ekonomi UKM pun berkembang menyertai kehadiran kampus-kampus tersebut. Di sanalah letak Perguruan Tarekat Qashrul Arifin yang diberi nama Rubath Munarak bergerak isi mengisi dengan dunia kampus dalam kehidupan kemahasiswaannya. Rubath Mubarak menjadi tempat pangkalan banyak mahasiswa demi mengisi sisi-sisi keagamaan.

  2. Sejajar dengan hal itu anak-anak Abah setiap dua tahun ada yang memasuki UIN, hingga kini sudah lima anak yang kuliah. Seorang di antaranya telah lulus S2 di UIN Yogya yang kini tengan melanjutkan S3 di perguruan tinggi yang sama. Setiap anak yang kuliah memiliki teman-teman yang dibawanya mengikuti tarekat. Nah, dari sanalah akhirnya Rubath Mubarak sepertinya tidak putus-putus mendapat pasikan murid-murid baru dari kalangan mahasiswa. Dari seluruh murid-murid yang telah mengikuti baiat sebanyak 4000 lebih separohnya adalah dari kalangan muda.

  3. Peranan para muassis/badal boleh jadi seimbang dalam perekrutan murid-murid baru, namun memiliki tipologi yang berbeda karena segmen ini latar belakang pasokan murid baru adalah dari masyarakat luas dan pasti memiliki umur yang lebih tua. Para muassis pada kesehariannya selalu berinteraksi dengan masyarakat luas. Mereka banyak kesempatan untuk menjalankan ide-ide dasar tarekat. Jika seorang calon murid menginginkan pendalaman, maka dibawa ke tempat Abah untuk pemantapannya. Jika kemudian terdapat kesepahaman ide-ide tarkeat maka calon murid mulai mengikuti ritua-ritual awal pra baiat, dipandu oleh muassis bersangkutan. Ritual pra baiat disebut mujahadah dilaksanakan selama tujuh hari di zawiyah-zawiyah dimanapun boleh.

  4. Sumber pasokan murid yang paling sedikit adalah berasal dari kalangan ‘warisan’ orangtua. Telah disebutkan di muka bahwa ayah Abah Irfa’i adalah seorang Syekh Mursyid juga sehingga murid-muridnya dan keluarga murid melanjutkan keanggotaan tarekatnya bkepada Abah Irfa’i juga. Dari segmen ini pastilah kecil jumlahnya karena sifat ayahnya sebagai sufi pengembara berakibat murid-muridnya tidak terkoordinir dengan baik. Murid-murid yang tergolong dari sumber ini berasal dari Wonosobo dan Temanggung.

Tetapi yang mendasar kenapa separoh murid tarekatnya pada waktu baiat dari kalangan muda, khususnya para mahasiswa? Dan mereka dengan antusiasme tinggi mengikuti jalan sufi? Ini lebih karena faktor kepemimpinan Abah Irfa’i yang mampu menopang ide-ide kesufian menggelar putaran-putaran halaqah yang dikelilingi oleh para mahasiswa yang populer disebut suhbah. Sebutan suhbah kiranya diambil dari istilah suhbah (istilah lengkapnya suhbah ilahiyah, kebersahabatan ketuhanan) yaitu sebuah media transformasi ide-ide, ajaran-ajaran yang berangkat dari kualitas bumi (baca: kualitas murid) kepada kualitas langit (baca: kualitas ketuhanan). Siapapun orangnya jika diberikan makna pada kesehariannya menjadi ke-Tuhanan pasti akan menimbulkan keterpikatan. Suhbah sejatinya telah menjadi metode para imam akbar Naqsyabandiyah zaman dahulu, yang maksudnya ingin memberikan dasar-dasar doktrinal kesufian selaras dengan ritual tarekat yang pada mulanya sedikit/ringan (tambah tinggi derajat spiritualnya tambah banyak ritualnya), tetapi mampu mencapai tasfiyat nafs. Metode naqsyabandiyah memang lebih mendahulukan tasfiyat nafs (pelembutan jiwa) dari pada tazkiyat nafs (penyucian jiwa).

Materi suhbah banyak diisi cerita tentang syekh-syekh akbar masa lalu, nilai-nilai ajarannya dan suri tauladan perilakunya. Misalnya tentang Syeikh Khalid (Baghdad) yag terkenal dengan ajaran dzul janahain (dua sayap), yaitu prinsip keseimbangan dunia akhirat. Juga tentang Imam Rabbani Sirhindi (India) yang terkenal tinggi ilmunya dan ajaran ketaatannya kepada syariat. Kemudian tentang Syekh Ubaidillah Ahran yang menyembunyikan kewaliannya di balik kekayaannya. Dan masih banyak lagi cerita kehidupan para syekh akbar menjadi menu-menu lezat bagi santapan rohani murid-murid baru kalangan muda yang selalu antusias.

Bagi murid senior sering mendapat kesibukan mengikuti acara-acara khusus yang dilakukan Syekh Irfa’i. Acara khusus diantaranya kajian-kajian kitab secara tematis yang dibawakan oleh putra-putra Syekh. Juga mengikuti Syekh menghadiri berbagai undangan, misalnya Rakernas dan Muktamar Tarekat an-Nahdliyah. Kepada murid senior juga diberikan ajaran-ajaran ilmu hikmah yang terdiri dari hizib nawawi dan hizib nasr. Ilmu hikmah demikian, sebagaimana dijelaskan oleh salah seorang putra Syekh, adalah bukan merupakan bagian dari ajaran tarekat melainkan asesoris sehingga tidak diwajibkan kepada semua muridnya.

Jenis ajaran ilmu-ilmu hikmah adalah jenis ilmu-ilmu tua yang diajarkan oleh berbagai tarekat dan banyak ulama zaman abad-abad lampau, namun akhir-akhir ini semakin langka kedengarannya. Bukan saja ia terkikis oleh sekularisasi dan modernisasi, melainkan juga oleh sebab ia sebagai wujud ajaran tasawuf falsafi dalam kadarnya yang rendah.

Perkembangan Kelembagaan

Adalah termasuk dalam kategori program bersisfat capacity building (pengemangan kelembagaan) dengan didirikannya Majlis Taklim (MT) di tiap zawiyah. MT memiliki kepengurusan terpisah, di bawah koordinasi muassis. Mereka diberi nama masing-masing sebagai berikut:

  • Di Karawang MT al-Mujaddadiyah

  • Di Temanggung, MT Badrul Ahrariyah, Najmul Ahrariyah, Syamsul Ahrariyah, Kawakibul Ahrariyah, ath-Thaifurriyah, Alfarisi, serta Ashiddiqiyah

  • Di Bantul, Albahai

  • Di Kudus Qashrul Arifin

  • Di Wonosobo at-Turmudzi

  • Di Depok, al-Athariyah

MT tersebut memiliki tugas mengadakan pengajian selapanan dengan mengumpulkan thoifah-thoifah dan anggota-anggotanya. Pengajian selapanan ini terbuka untuk umum. Maka biasanya pemimpin thaifah datang dengan membawa beberapa tamu yang boleh jadi akan tertarik mengikuti tarekat, setelah melihat aktifitas-aktifitasnya. Pengurus MT juga memiliki tugas menghadiri pengajian-pengajian yang digelar di zawiyahpusat di Yogya dan Ciamis secara berkala. Pengisi pengajian-pengajian di MT adalah para muassis/badal. Khusus pengajian di zawiyahpusat diisi oleh anak-anak Abah dengan materi bidang aqidah, bidang fiqih, dan bidang tasawuf secara bergantian.

Abah Irfa’i tidak memiliki kegiatan lain selain yang terkait dengan tarekat. Kegiatan lain yang diikuti adalah menghadiri undangan-undangan Jamiyyah Tarekat Annahdliyah karena tercatat sebagai ketua Aliyah DI Yogyakarta. Menghadiri undangan hajatan yang digelar murid-murid banyak dilakukan juga, namun hal ini dipandang sebagai bagian dari pelayanan seorang guru kepada murid.

*

Disadur dari buku “Dakwah Personal Model Dakwah Kaum Naqsyabandiyah” Drs. Ahmad Dimyati, M. Kom.I, 2016.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.