Sayyidina Abu Abdurrahman Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anh

Sampailah kita pada silsilah guru yang ke-3, yakni Al-Imam Abu Abdurrahman Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallaahu ‘anhum. Beliau adalah cucu Sayyidina Abu Bakar dari isteri yang bernama Asma’ binti Umais. Beliau adalah salah satu dari 7 ahli fiqih yang masyhur di kota Madinah. Ibunya adalah seorang puteri dari kerajaan ‘Ajam (Persia). Peristiwa itu terjadi pada masa kepemimpinan Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallaahu ‘anh setelah pasukan mukminin menaklukan Persia dan membawa 3 orang puteri kaisar Persia Yazdajird bin Syahriyar sebagai “boyongan” (tawanan perang). Sayyidina Umar bin Khattab berencana menjual mereka, maka beliau memberikan ketiga puteri tersebut pada seorang makelar untuk menjual mereka di pasar budak. Mendengar rencana itu, Sayyidina ‘Ali karromallaahu wajhah berkata, “Wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Muliakanlah orang-orang mulia dari suatu kaum yang (kemudian) terhina, dan orang kaya yang (kemudian) jatuh miskin.” Sesungguhnya puteri-puteri raja, tidak mungkin dijual dipasar budak semisal perempuan yang lain. Tetapi, tetapkanlah harga mereka lalu jual kepada orang yang akan memilih mereka. Maka kemudian ditetapkanlah harga dari ketiga puteri tersebut. Lalu Sayyidina Ali karromallaahu wajhah membayar harganya dan kemudian ketiga puteri itu diberikan kepada Husain bin Ali, Muhammad bin Abu Bakar dan Abdullah bin Umar radhiyallahu ta’ala ‘anhum ajma’in.

Sedangkan dalam kitab Hilyatul Auliya, ada sedikit perbedaan kisah/riwayat, yakni Sayyidina Ali berkata, “Puteri-puteri ini adalah orang-orang yang mulia dan terpelajar, maka hendaknya ditawarkan kepada mereka, adakah mereka mau masuk Islam. Jika mau masuk Islam, maka mereka akan dimerdekakan. Sehingga, setelah merdeka, ia berhak memilih suami yang dia inginkan. Tetapi, jika tetap dalam kekafirannya, barulah ditetapkan harganya lalu dijual.” Akhirnya mereka bertiga memilih masuk Islam dan kemudian diperisteri oleh 3 orang sahabat tersebut (Husain bin Ali, Muhammad bin Abu Bakar dan Abdullah bin Umar) sebagaimana tersebut di atas.

Maka dari ketiga puteri itu, terlahir putera-putera pilihan, yakni Sayyidina Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Sayyidina Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Sayyidina Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Para ulama banyak memberikan pujian kepada Sayyidina Qasim radhiyallahu ‘anhu. Diantaranya adalah :

Ibnu Sa’d berkata: “Sesungguhnya beliau (Sayyidina Qasim radhiyallahu ‘anhu) adalah orang yang bisa dipercaya, seorang ulama ahli fikih, imam yang wira’i dan banyak meriwayatkan hadits.”

Berkata Yahya bin Sa’id: “Kami tidak menemukan di kota Madinah ini seseorang yang kami muliakan melebihi beliau (Sayyidina Qasim radhiyallahu ‘anhu)”

Abu Zunad berkata, “Aku tidak melihat seorang pun yang lebih pandai tentang sunnah melebihi beliau (Sayyidina Qasim radhiyallahu ‘anhu). Dan tidaklah seorang itu layak disebut “tokoh” sebelum ia mengenal sunnah.” Maka Sayyidina Qasim merupakan perwujudan tokoh panutan yang sempurna karena penguasaannya terhadap sunnah.

Berkata Ayyub, “Aku tidak melihat orang yang lebih utama daripada beliau (Sayyidina Qasim radhiyallahu ‘anhu)”

Berkata Abu Na’im dalam kitab Hilyatul Auliya’, “Dalam masalah hukum-hukum yang rumit beliaulah penyingkap/pengurainya, dan dalam kemuliaan akhlak beliaulah pendahulu/terdepannya.”

Selain pujian-pujian akan tingginya ilmu beliau, para ulama pun mengisahkan ketawadlu’an, kehati-hatian dan kesucian jiwa beliau, di antaranya:

Di dalam kitab Hilyatul Auliya’ diriwayatkan dari Ayub yang berkata, “Aku mendengar Sayyidina Qasim ditanya ketika berada di Mina. Beliau menjawab, “Aku tidak tahu.”

Ketika mereka terus bertanya dengan pertanyaan yang banyak, beliau berkata,

“Demi Allah, kami tidak mengetahui apa yang kalian semua tanyakan. Jika kami mengetahuinya, tentu kami tidak akan menyembunyikannya. Tidak halal bagi kami untuk menyembunyikannya.” Hal demikian karena sangat hati-hati nya beliau dalam memberikan fatwa. Ini dikuatkan dengan suatu riwayat selanjutnya dari Yahya bin Sa’id dalam kitab yang sama.

Yahya bin Sa’id berkata, “Aku mendengar Sayyidina Qasim berkata: Tidaklah kami mengetahui segala sesuatu yang ditanyakan kepada kami. Sesungguhnya, setelah seseorang mengetahui hak Allah atas dirinya, maka hidupnya dalam keadaan bodoh adalah lebih baik daripada berkata (berfatwa) mengenai perkara yang dia tidak mengetahuinya.”

Dikuatkan lagi dengan suatu riwayat dari Muhammad bin Ishaq dalam kitab tersebut. Dikisahkan, suatu hari datanglah seorang A’robi (Arab Badui) kepada Sayyidina Qasim radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “Siapa yang lebih pandai, engkau atau Salim (bin Abdullah bin Umar bin Khattab)?”

Beliau menjawab, “Dzaaka manzilu Saalim (Itulah posisi/kedudukan Salim)” Beliau tidak menambahkan lagi dengan kata-kata yang lain sehingga A’robi itu bangkit (pergi).

Mengomentari hal ini, berkata Muhammad bin Ishaq, “Beliau tidak mengatakan dia (Salim) lebih pandai dariku karena artinya beliau berbohong. Tapi beliau juga tidak mau berkata Aku lebih pandai darinya (Salim)” Beliau membersihkan jiwanya dari kesombongan.

Demikianlah ketinggian ilmu dan akhlak dari lelaki mulia, sanad guru ke-3 dalam Thariqah Naqsyabandiyah, beliau Sayyidina Qosim radhiyallahu ‘anhu, yang suka memakai kopyah dan sorban yang berwarna hijau. Sayyidina Qasim radhiyallahu ‘anhu wafat pada tahun 106 hijriyah di suatu daerah antara Makkah dan Madinah ketika beliau melaksanakan haji/umrah. Beliau berkata kepada puteranya, “Aku minta kuburku ditutup dengan tanah dan diratakan. Kemudian bergabunglah kamu dengan keluargamu, dan kamu tidak perlu bercerita apa yang telah terjadi.”

Bagan 1 :

keluarga Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyalllahu ‘anh (isteri dan anak anak) :

Bagan 2 :

Keluarga Sayidina Qasim radhiyalllahu ‘anh :

 

 

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan