Di mana Maqam (Nilai) Diri Kita?

Pada suatu kesempatan, Syekh Muhammad Irfa’i Nachrawi an-Naqsyabandi, di Kasepuhan Atas Angin, Ciamis, menyampaikan nasihat-nasihatnya mengenai tantangan yang dihadapi para salikin (murid-murid tarekat). Kesempatan membersamai Guru Mursyid, dalam dunia ketarekatan seperti ini, kerap kali disebut dengan ber-suhbah. Kali ini beliau menerangkan pentingnya seorang salik untuk selalu bermuhasabah atau mengevaluasi diri. Murid harus mengenal dirinya, mengetahui dan menyadari sepenuhnya sampai sejauh mana perjalanan ruhaninya. Berikut ini merupakan petikan suhbah Syekh dalam menjawab tantangan tersebut:

“Gerak-gerik badan atau jasad manusia itu disebut dengan amal atau af’al. Gerak-gerik manusia di dalam jiwa atau badan batin itu disebut dengan ahwal. Ada gerakan (gerak-gerik) yang bernilai negatif dan ada gerakan (gerak-gerik) yang bernilai positif.

Gerak-gerik badan jasad (manusia) itu (disebut dengan) amal atau af’al. Gerak gerik dalam jiwa (manusia) itu namanya ahwal. Jadi kita itu (harus) mengenal ahwal dalam badan batin kita ini.

Ada gerakan (gerak-gerik) yang bernilai negatif dan ada yang (bernilai) positif.

Gerak negatif itu muncul dari watak nafsu yang rendah. Watak nafsu yang rendah ini ada dalam martabat (ke)binatang(an). Ada watak binatang jinak (atau) nafsu bahimiyah (yaitu: rakus, serakah, senangnya (hidup) enak-kepenak (berleha-leha), banyak keluh-kesah, dan lain sebagainya), ada watak binatang buas (nafsu) saba’iyyah (yaitu: iri, hasud, dengki, dan lainnya).

Di samping itu (masih) ada tiga lagi watak rendah dalam diri manusia. (Pertama), nafsu angkara (ammarah bisu’), misalnya (sifat) egois dan selalu menentang kebenaran Tuhan. (Kedua) nafsu iblisiyah, (yaitu), tipu daya, kebencian, dan permusuhan (kepada sesama manusia). (Ketiga) nafsu rububiyah (yaitu) sombong atau takabbur.

Inilah watak-watak rendah dalam diri manusia yang harus kita teliti sehingga kita mengetahui maqom (nilai) diri kita. Masuk dalam maqom binatang (yang) mana (?).

Di sinilah kita introspeksi diri (muhasabah), untuk (senantiasa) mengevaluasi diri. Ini tugas salik dalam Thoriqoh Naqsyabandi. Kita akan hijrah dari alam bahamut (binatang) (menuju) ke alam nasut (kemanusiaan). Maksudnya, dari perbuatan yang mengikuti kebiasaan diri dan perasaan, (larut dan terbawa oleh perasaan) menuju pada gerakan yang ilmiah (menggunakan akal pikiran/mampu mengontrol dorongan perasaan-perasaan). (Misalnya) berfikir sebelum berbuat.

Setelah itu kita akan pindah dari alam nasut (menuju) ke alam malakut. Artinya, (bertransformasi) dari gerakan-gerakan yang didorong oleh kepentingan-kepentingan diri kita menuju gerakan-gerakan yang didorong oleh amanat suci, berupa tugas-tugas kehidupan dalam segala aspek dari Sang Pencipta, Allah SWT. (Inilah yang disebut dengan) gerakan-gerakan religius.

Kemudian dari alam malakut kita (para salik) akan hijrah ke alam jabarut. (Artinya), semua gerakan-gerakan kita didorong oleh ruh atau semangat pengabdian kepada Allah SWT. Di sinilah maqam mereka yang selalu mengucapkan: Ilahi Anta Maqsudi wa RidhoKa Mathlubi (Ya Allah, hanya kepada Engkau tujuan hidupku, dan ridho-Mu yang kami cari).

Setelah itu semuanya, kita masuk ke alam lahut. Di sinilah wujud tauhid haqiqi. Terrealisasinya kebenaran yang terkandung Dalam samudera kalimat: Laa Ilaaha Illallah.

Jadi (dalam) bahasa lain, untuk apa kita menelaah ahwal dan maqom (diri)?

(Pertama) untuk tazkiyatun nafsi, membersihkan (diri) kita dari sifat-sifat yang rendah (sifat binatang). (Kedua) untuk tashfiyatul qolbi, menjernihkan hati (dan) membebaskan hati dari penyakit-penyakit maknawi, cinta dalam diri yang berlebihan.

Cinta dalam diri yang berlebihan melahirkan sifat egois. Cinta kepada harta yang berlebihan melahirkan sifat materialistis. Cinta kepada kedudukan yang berlebihan melahirkan sifat ambisius. Dari penyakit-penyakit ini, lahir dalam gerakan-gerakan yang selalu memaksakan kehendak. Jika sudah begini, cahaya keimanan tidak berfungsi. Pada posisi inilah disebut orang yang ghoflah (lalai). Inilah awal bencana dalam kehidupan umat manusia, baik individu, sosial dan seterusnya semakin meluas.

Dengan kita menelaah ahwal ini, kita punya tujuan agar bisa mengamalkan hukum-hukum syariah, bisa mengaplikasikan cahaya keimanan, bisa merealisasikan rahasia-rahasia ihsan sehingga kita bisa masuk dalam Islam secara kaffah, sebagai muslim yang kamil. (Pada tahap) berikutnya dinamakan Insan Rabbani. Yaitu, manusia yang wushul (sambung) kepada Tuhannya, Allah SWT.

Kita mempelajari manaqib-manaqib (sejarah dan kisah tauladan para guru), suhbah-suhbah guru untuk mencapai ini semuanya. Allah telah memberikan pilihan pada hamba-Nya, (apakah) ia akan memilih apa yang di sisi Allah atau yang di dunia (?)”

Penjelasan dari Syekh di atas telah memberikan penanda tentang alur perjalanan rohani salik. Di mana salikin mesti memperjalankan rohaninya melintasi sekian alam yang tentunya memerlukan kesiagaan dan kesigapan agar memudahkan perjalanannya. Berkah bimbingan ini juga berisi peringatan kepada para salikin untuk selalu menganalisa diri (mawas diri). Murid diharapkan selalu waspada dalam perambahan rohaninya. Semoga berkah dan tawajjuh beliau selalu menguatkan sayap-sayap kita melalui shirat ini.

Penulis

Ubey

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan