KEMULIAAN SAYYIDINA ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ Radhiyallahu ‘Anh

Bismillaahir rahmaanir rahiim

Dengan mengenal kemuliaan Sayyidina Abu Bakar, kita akan menghormati dan memuliakannya. Dengan memuliakannya, kita akan mendapatkan limpahan barokah dari beliau Radhiyallahu ‘Anh, juga keluberan watak beliau yang luhur. Dengan suka membaca sejarah beliau, kita akan semakin mencintai beliau, dan tidak terasa kita akan meniru-niru watak beliau.

Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang yang pertama kali beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara mutlak, atau (orang yang pertama beriman) dari kelompok lelaki (dewasa). Beliau adalah seutama-utamanya manusia, setelah para Nabi.

Namanya adalah Abdullah. Nama ini adalah pemberian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam setelah beliau masuk Islam. Adapun nama beliau ketika masih jahiliyah adalah ‘Abdu Robbil Ka’bah.

Rasul mensifati Abu Bakar dengan ‘Atiq, yakni orang yang suka memerdekakan (membebaskan) budak. Sedangkan laqob-nya adalah Ash-shiddiq, yakni orang yang membenarkan Nabi tanpa ragu dan banyak berfikir.

Beliau beriman kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sejak awal kenabian, kemudian beliau menyeru kepada mayasrakat untuk beriman kepada Allah. Sehingga orang-orang memenuhi seruannya untuk masuk Islam, di antaranya adalah sahabat Thalhah (bin ‘Ubaidillah) Radhiyallahu ‘Anh, sahabat Utsman (bin ‘Affan) Radhiyallahu ‘Anh, sahabat Zubair bin ‘Awwam Radhiyallahu ‘Anh dan sahabat sahabat yang lain radhiyallahu ‘anhum ajmain (semoga Allah melimpahkan keridloan kepada mereka semuanya).

Beliau Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq selalu memberikan pekerjaan kepada orang-orang yang tidak punya pekerjaan dan memberi pertolongan kepada orang-orang yang lemah. Beliau telah memerdekakan 6 budak dalam Islam sebelum hijrah ke Madinah bersama Nabi. Sahabat Bilal adalah sahabat ke-7 yang dibebaskan dari perbudakan. Maka Allah menurunkan QS. Al-Lail/92 : 17-18 untuk Sayidina Abu Bakar :

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى ﴿ ١٧

الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ ﴿ ١٨

“Dan Allah akan menyelamatkan orang yang paling takwa. Orang yang memberikan hartanya untuk membersihkan kekayaannya (mensucikan dirinya)”

Dan juga Allah menurunkan QS. At-Taubah/9 : 40 untuk beliau Radhiyallahu ‘Anh :

اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَا ۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰى ۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ ﴿التوبة : ۴۰

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya (yakni Abu Bakar): “Janganlah kamu berduka cita / bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”

Dikatakan dalam Tafsir Khazin (menukil perkataan Asy-Sya’bi), “Dalam ayat ini, Allah mencela ahli/ penduduk bumi semuanya, kecuali Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq”. Berkata Hasan Bin al-Fadhal :.

“Barang siapa yang mengatakan Abu Bakar bukan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,maka dia adalah kafir, karena ia telah mengingkari nash Al-Qur’an” Sedangkan mengingkari sahabat yang lain, selain Abu Bakar Ash-Shidiq, hukumnya Bid’ah, tidak menjadi kafir.

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada Abu Bakar Ash-Shidiq Radhiyallahu ‘Anh :

Kamu adalah sahabatku di Haudl (telagaku), dan kamu adalah sahabatku ketika di dalam gua (Tsur)” (HR. Imam Turmudzi)

Ayat ini (QS. At-Taubah/9 : 40) dijadikan landasan oleh para ulama, bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling mulia setelah para Nabi. Berikut penjelasannya :

  1. Di antara yang menjadi kemuliaan Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anh adalah, sesungguhnya ketika Nabi bersembunyi di gua (Tsur) dari kejaran orang-orang kafir, beliau senantiasa melihat Abu Bakar dalam sirr (hal yang tidak tampak/ rahasia) maupun ‘alaniyah (hal-hal yang tampak).
  2. Sungguh Abu bakar ini termasuk orang mukmin (Mu’minin), Shadiqin, Shiddiqin dan Mukhlasin.

Mu’minin artinya orang yang beriman.

Shadiqin artinya orang yang jujur, bersih jiwanya.

Shiddiqin artinya orang-orang yang selalu yakin apa yang dikatakan Rasul, meski “tampaknya” yang dikatakan Rasul itu sangat tidak rasional.

Seperti dikisahkan, setelah Isra Mi’raj, Rasul menceritakan yang dialaminya kepada para sahabat, bahwa beliau semalam melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis di Palestina, kemudian naik menembus hingga 7 lapis langit dan kembali sebelum waktu shubuh tiba”. Banyak sahabat yang meragukan kisah itu, atau mengira Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bermimpi. Tapi Sayidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anh memercayai apa yang beliau katakan sepenuh-penuhnya.

Mukhlasin artinya orang-orang yang sabar terhadap apa yang diperintahkan Allah, entah sulit entah mudah, sama saja baginya, keduanya dilaksanakan karena keduanya sama sama perintah Allah. Berbeda dengan mukhlisin. Mukhlisin berarti orang yang memaksakan dirinya agar dapat melaksanakan perintah Allah. Sayidina Abu Bakar adalah termasuk orang yang sama sekali tidak merasa berat dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasulullah. Misalnya, pada saat perang Tabuk. Kaum muslim membutuhkan sangat banyak logistik, karena 10.000 pasukan muslim akan menempuh perjalanan yang sangat jauh. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajak para sahabat untuk bersedekah. Sayyidina Abu Bakar menyedekahkan semua hartanya. Ketika Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya, “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu”. Sayyidina Abu Bakar menjawab, “Allah dan Rasul-Nya”.

  1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memilih Abu Bakar untuk selalu bersama beliau di tempat- tempat yang sangat membahayakan. Karena Rasulullah sangat mengenal pribadi beliau.
  2. Dari ayat tersebut dapat dilihat pula, sebagian dari kemuliaan Abu Bakar Ash-Shidiq, yakni bahwasanya hijrah Nabi itu atas perintah perintah Allah ta’ala, sedangkan Nabi memilih Abu Bakar untuk menemani beliau. Ini artinya, Allah mengkhususkan Abu Bakar untuk menemani Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bukan yang lainnya. Pengkhususan ini menunjukkan kemuliaan yang khusus bagi Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anh.
  3. Juga, sebagaimana dikatakan diatas, dalam ayat ini, Allah mencela semua ahli bumi ini kecuali Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anh.
  4. Sayyidina Abu bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anh, selalu bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik di dalam perjalan Rasul maupun ketika beliau tinggal. Ini adalah dalil yang menunjukkan tingginya mahabbah Abu Bakar dan kebenaran shuhbahnya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ketika bersama Rasulullah, Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anh selalu muanasah, yakni membuat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam gembira, ceria. Bahkan Sayidina Abu Bakar selalu mencurahkan kegembiraannya kepada Rasul.
  5. Juga, pada ayat tersebut Allah menjadikan Abu Bakar sebagai “Orang kedua dari dua orang”, yakni yang pertama adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan kedua adalah Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anh. Ini menunjukkan kemuliaan Abu Bakar.

Bahkan dikatakan, Abu bakar adalah orang kedua setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam segala keadaan. Yakni :

    • Ketika menjelang wafat, Rasulullah tidak mengimami shalat, maka Sayyidina Abu Bakar lah yang mengimami. Beliau adalah satu-satunya sahabat yang menjadi imam shalat selagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam masih hidup.
    • Nabi menyeru kepada manusia untuk beriman, maka Abu Bakar lah orang yang pertama kali beriman. Hal ini menunjukkan beliau adalah orang yang kedua dalam iman.
    • Kemudian, setelah beriman, Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anh mengajak orang-orang untuk beriman, dan banyak di antara manusia mengikuti ajakan beliau untuk beriman, sebagaimana telah dijelaskan di atas. Maka ini artinya Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anh adalah orang kedua dalam dakwah Islam.
  1. Juga, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah berhenti / transit di suatu tempat ketika peperangan, kecuali Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anh selalu menyertainya. Kita teringat, ketika perang Uhud, saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terpukul mundur dan terluka, saat itu pun Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anh menemani beliau.
  2. Dalam ayat itu dikatakan “dia salah seorang dari dua orang”, maka tentu yang ketiga-nya adalah Allah sebagaimana dikatakan dalam syair di bawah ini, maka barangsiapa yang Allah bersamanya, tidak diragukan lagi dalam keutamaan dan kemuliaannya di atas yang lain.

Bersabda Nabi, “Tidak mengeluh, dia menemaniku, dan kami ada di dalam kegelapan gua,

Janganlah engkau takut pada apapun, karena sesungguhnya Allah lah ‘yang ketiga’ dari kita berdua. Dan sungguh menjamin pertolongan untukku dengan sangat jelas.

Sesungguhnya tipu daya yang engkau takutkan, itu hanya tipu daya setan dan orang-orang kafir.

Allah yang akan menghancurkan semua sebab perbuatan mereka, Allah yang akan menjadikan akhir tempat mereka di neraka.

  1. Juga dalam ayat tersebut, Allah menurunkan sakinah (ketenangan) kepada Abu Bakar Ash-Shidiq dan mengkhususkannya untuk beliau. Ini juga dalil yang menunjukkan keutamaan beliau Radhiyallahu ‘Anh.

Wahyu telah terputus dan agama telah sempurna, Apakah agama ini akan menjadi berkurang, sementara aku masih ada….

Pada awalnya Abu Bakar merasa khawatir/ takut. Tentu saja takut dan khawatir akan keselamatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Bagaimna jika sampai orang kafir menemukannya. Maka turunlah ayat “Jangan bersedih hati, sesungguhnya Allah bersama kita. Maka Allah turunkan ketenangan”. Inilah tawajjuhan pertama kali yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anh ketika berada di dalam gua Tsur selama 3 hari,

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat Rasul wafat, banyak orang-orang yang murtad (berpaling dari Islam)., bahkan mereka berani berkata, “Tidak perlu kita membayar zakat lagi”.

Maka Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anh berkata, “Bila engkau menghalangi aku, untuk melaksanakan ajaran Rasul, sungguh aku akan perangi”.

Banyak para sahabat berkata, “Wahai Khalifah Rasul, sayangilah orang-orang ini”, yakni agar Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anh bersikap lunak agar menjaga stabilitas.

Maka Abu Bakar berkata, “Aku akan bersikap lemah lembut di dalam Islam, wahyu telah terputus dan agama telah sempurna. Apakah agama ini akan menjadi berkurang, sementara aku masih hidup”.

Demikian ketegasan sikap dari Abu Bakar Ash-Shiddiq mempertahankan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallamyang diamanatkan di pundaknya sebagai khalifatur Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Catatan Shuhbah Bersama Syaikhina wa Murobbi Ruuhina

Abah Kyai Irfa’i Nahrowi An-Naqsyabandi Quddisa Sirruh

Malam Sabtu Wage, 8 Jumadil Awal 1441 H / 4 Desember 2010 M

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan