Jumlah Dzikir itu Bukan Hal Sepele dan Maqam Mursyid Bukan Maqam yang Bisa Disendauguraukan

Terkait konten ceramah Gus Baha’ dalam video ini yang sedikit mengulas tentang Mursyid Thoriqoh, dzikir dan jumlahnya, kok rasa-rasanya ada yang kurang Indah.

Salam…

Kepada Jamaah Thoriqoh Mu’tabaroh…
Kalau mendengar dari ceramahnya Gus Baha’ tentang kenapa dzikir kok dihitung-hitung dan Mursyid itu salah, jangan merasa dikritik dan risau. Karena beliau berkata seukur (melalui sudut pandang) ilmunya. Kita harus bisa memaklumi, sedangkan para Mursyid memiliki mata pandang sendiri.

Banyak hal yang bisa dilihat oleh para Mursyid dengan mata hatinya, tapi tidak bisa dilihat oleh orang awam. Banyak orang yang mengenal ketauhidan Allah, kebenaran ajaran Rasul membutuhkan dalil. Tapi bagi ahlit thoriqoh tidak memerlukan dalil. Kenapa begitu? Karena bagi ahli Thoriqoh hal tersebut merupakan ilmu badihi, sementara bagi orang lain hal tersebut merupakan ilmu nadzori.

Sebagai contoh:
Dalam realitas kehidupan ini, bagi orang yang sehat, ia mengatakan gula itu manis tidak memerlukan dalil. Tapi bagi orang yang sedang sakit liver itu sangat-sangat membutuhkan dalil.

Demikianlah, semestinya bagi ahli thoriqoh tidak akan risau oleh hal tersebut dan tidak perlu menyalahkan.

Salam….

Rangkaian Kalimat di atas adalah Tanggapan Guru kami, atas pertanyaan dan mungkin juga kegelisahan beberapa murid/salik yang mendengar/melihat ceramah Gus Baha’ tersebut. Dan tentu saja kami semua, “sami’na wa atho’na”…..

Namun demikian sedikit oret-oretan ini barangkali perlu untuk tidak melewatkan begitu saja sentilan situasi ini di benak pikiran kita tentang hal ini agar menjadi pelajaran.

Kenapa Jumlah Dzikir itu Bukan Hal Sepele

Sesungguhnya di dalam hal penjumlahan dzikir, sebagaimana ditemukan dalam jumlah-jumlah dzikir yang diwajibkan pada seorang murid/salik dalam dunia thoriqoh terdapat sebuah rahasia. Rahasia yang menyimpan nilai-nilai kebijaksanaan, metodologis, kearifan dari samudera hikmah yang tiada terkira. Ia tidak semata mengacu pada suatu angka mati yang tidak bermakna. Atau ia hanya sebuah patokan tak berarti yang semata bertujuan untuk hal-hal yang sifatnya duniawi, baik itu dunia sensasi maupun dunia persepsi. Ia jauh, bahkan lebih jauuuh dari itu lagi…

Terkhusus dalam thoriqoh Naqsyabandiyah, hal yang terkait dengan jumlah dzikir tidak sesepele yang dipikirkan. Dalam thoriqoh ini ada 11 asas thoriqoh yang 8 pasal di antaranya diasaskan oleh Wali Agung Syekh Abdul Khaliq al-Khujdawani, qs. dan 3 lainnya adalah penyempurnaan oleh beliau Imam thoriqoh Syah Naqsyaban. Di antara 3 pasal penyempurnaan ini tersebutlah asas/adab yang berkaitan khusus dengan jumlah dzikir yaitu; wuquf ‘adadi. Apa itu wuquf ‘adadi? Sebelum kita bergerak pada pengertiannya, mungkin kita akan melihat dulu posisinya yang sebagai adab dalam thoriqoh.

Artinya ia adalah sebuah ketentuan dalam sebuah rumah besar metodologi pendekatan pada Allah Rabbul Jalil. Ya, thoriqoh adalah metodologi, ia tidak semata bisa dipahami secara penuh dengan pendekatan pemahaman melalui teks, justru ia sendiri adalah jalan atau jembatan yang rumit yang menghubungkan teks dengan hakikatnya. Ibarat, ketika kita mempersepsi kalimat La ilaha Illallah, untuk sampai pada hakikatnya kita musti mengarungi samudera yang bernama thoriqoh. Di dalamnya ditemukan sekian dinamika yang jauh dari kemampuan kita untuk membeberkannya secara instan dan sekali tuang. Namanya juga proses, tentu memiliki jutaan faktor yang saling terhubung, baik secara sederhana sampai yang rumit. Artinya, jika dengan sembrono menghilangkan “jembatan penghubung” ini dan dengan tiba-tiba membicarakan tujuan/hakikat, maka akan ada keriskanan yang nyata.

Nah, anggaplah salah satu tata tertib dalam menyeberangi “jembatan” itu tadi adalah adab dan adab tersebut adalah wuquf ‘adadi. Bisa jadi si penyeberang tidak sampai-sampai di ujung jembatan karena keburu pusing pada langkah ke sekian atau malah santai-santai di atas jembatan tadi sambil menikmati pemandangan, misalnya. Udah kayak jembatan penyeberangan (fly over) Pasar Rebo aja kan?
Karena kita tidak sedang mencari angin di seputaran Pasar Rebo, tapi sedang berjalan (salaka) pada jembatan antara yang dhohir dan yang bathin maka, tidak keliru adanya jika para Mursyid dalam thoriqoh ini menentukan sekian aturan main agar memudahkan perjalanan (suluk) kita ini. Di situlah pentingnya mengaplikasikan adab-adab yang salah satunya adalah wuquf ‘adadi.

Wuquf ‘adadi adalah kesadaran akan jumlah saat berdzikir. Seorang penempuh (salik) diharuskan selalu sadar akan jumlah dzikirnya. Ia tak boleh terlena dan kehilangan kesadaran telah sampai di mana. Adz-Dzakir harus menyadari jumlah dzikirnya bukan untuk jumlah itu sendiri tapi untuk yang tidak berjumlah atau yang Maha Tunggal. Untuk sampai pada kesadaran akan ke-Maha Tunggal-an (singularisme) bagaimanapun mesti melewati yang plural (yang berjumlah, jamak, banyak). Imam Rabbani as-Sirhindi, qs. salah satu Guru Besar dalam silsilah thoriqoh ini mengatakan, seseorang tidak akan bisa mencapai istana “Illallah” (kecuali ALLAH) hanya jika ia telah membersihkan jalannya dengan sapu “La Ilaaha.” Hati begitu lembut, perilaku dan gerak-geriknya sangat halus. Awam kebanyakan tak akan mampu mendeteksi apakah telah benar-benar tertanamkan hakikat La Ilaha illallah ataukah belum dalam dirinya dengan tanpa proses suluk ini. Bagaimana perilaku hati yang telah mengambil tuhan (menuhankan) selain Allah amatlah sulit dikenali. Makanya, benar kaidah man arofa nafsahu faqod arofa robbahu. Kecenderungan, keterpesonaan, ketertarikan dan kecintaan kita pada selain-Nya yang telah mengijinkan kita untuk menduakan perhatian hati dan perbuatan fisik menujukkan betapa hanya hati yang lembut dan bersih yang mampu bertauhid padaNya semata. Artinya, sebelum proses tazkiyah dan tashfiyah, hati cenderung menurut pada sensasi dan persepsi yang jelas itu bukan Tuhan. Itulah tuhan-tuhan anfasi dan afaaqi. Mereka adalah suatu yang berjumlah. Banyak dan bermacam-macam. Tauhid atau sikap hati yang menyatu dan menyatukan Allah baik dalam pemahaman pun juga dalam penyembahan terhadap-Nya, atau apa yang dalam bahasa para Guru Kami adalah sikap tauhidul tawajjuh hanya akan tercapai setelah proses tazkiyah dan tashfiyah, setelah fana’ dan baqa’ secara lahir dan batin. Bagaimana mungkin, tiba-tiba menyederhanakannya langsung menjadi orang yang muwahhid, jika demikian.

Wuquf ‘adadi, adalah salah satu dari sekian jurus spiritual yang super ampuh, bagaimana mungkin ia tidak signifikan dalam proses pembentukan rohani yang bertauhid. Syah Baha’uddin an-Naqsyaban, qs. sendiri mengatakan bahwa salah satu rahasia dari wuquf ‘adadi adalah sebagai salah satu tangga awal untuk mendapatkan ilmu ladunni. Nah lho… nggak main-main kan?

Guru kami Syekh Muhammad Irfa’i Nahrawi, qs dalam setiap kesempatan pendidikan suluk ilahiyah selalu memeriksa apakah para murid mengindahkan asas ini. Beliau selalu menekankan agar kita tetap sadar akan bilangan dzikir. Salah satunya ketika diaplikasikan dalam kegiatan-kegiatan khidmah. “Pekerjaanmu harus terprogram, dan untuk menyelesaikannya kamu harus menetapkan target, jika telah menyelesaikan satu pekerjaan, segera menyambut pekerjaan lainnya.” Inilah pendidikan tentang kesadaran akan jumlah. Kita tidak boleh berleha-leha dan memberi peluang bagi merasuknya hawa nafsu untuk menguasai diri kita. Segera beranjak dan tangani!” “Fa idza faraghta fanshob, wa ila robbika farghob!”

Hikmah yang tinggi kita dapatkan dari hal ini bahwa perjalanan rohani ini bukan perjalanan yang berleha-santai. Perjalanan menemui sang Kekasih ini tentu akan melewati sekian alam dan maqomat. Bagaimana bisa kita lengah, jika antara langit dan bumi saja memerlukan 500 tahun! Belum lagi sekian tingkatannya! Sadar akan jumlah adalah pemacu kita untuk selalu antusias, bersemangat, bergelegak, menambah-nambahkan kecintaan dan kerinduan agar mampu menerbangkan ruh yang ringkih ini. Kesadaran akan jumlah (wuquf ‘adadi), alhasil adalah terkait dengan kecepatan terbang rohani kita. Kecepatan yang terukur dan terjaga dari ketergesa-gesaan karena kebodohan dan juga dari keterlambatan akibat kemalasan dan keberleha-lehaan akibat terpengaruh hawa nafsu.

Allah SWT, Ia yang maha tunggal dan menyukai yang ganjil. Tidak ada persamaan matematis di dunia ini yang tak memerlukan angka satu. Allah yang satu yang tanda-tanda kebesaran-Nya manifest pada semua yang banyak. Ia yang Ketunggalan-Nya bersembunyi dalam semua yang berjumlah. Allah Kariiim…. Tidak sia-sia adanya keberjumlahan.

Maka, tidak ada perbedaan antara syekh Abu Yazid al-Bistami, qs, Syekh Junaid al-Baghdadi,qs, Syekh Abu Hasan asy-Syadzili, qs. dengan para mursyid jaman sekarang dalam menggembleng rohani para salik untuk mencapai yang Maha Tunggal, Allah Robbul Alamin, ketika menetapkan jumlah dzikir pada para murid. Hilanglah keindahan kebenaran karena telah menghilangkan dimensi esoteris ini. Keringlah jiwa yang telah dihalangi dari mengatahui adanya pancuran emas hanya oleh ilmu pemahaman yang teks belaka. Terakhir, Para Mursyid menyertakan hitungan dalam dzikir, tak lain dan tak bukan adalah sebagai salah satu washilah bagi makhluk lemah ini untuk mengenal-Nya. Hanya saja mungkin kita terlalu tergesa-gesa untuk memahami, sehingga ketrucut mengatakan bahwa mursyid jaman milenial ini telah mengajarkan hal yang berbeda dari pendahulu-pendahulu mereka.

Wallahu A’lamu

Tim Redaktur

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan