Tarawih Dan Tadarrus di bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulannya umat Rasulullah SAW. Pada bulan ini umat Islam diwajibkan puasa selama sebulan. Selain puasa, juga dianjurkan ibadah-ibadan lainnya, seperti shalat tarawih dan tadarus al-Qur’an. Syaikhina, Muhammad Irfa’i Nachrawi an-Naqsyabandy, memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan shalat tarawih dan tadarus al-Qur’an pada bulan Ramadhan sebagaimana yang diajarkan Rasulullah:

“Tidak setiap malam Rasul shalat tarawih di masjid. Hanya saja, pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, Beliau (Rasulullah) rutin shalat (itikaf) di masjid. Selama Ramadhan beliau (meng)khatam(kan) Qur’an sebanyak dua kali dengan metode saling membaca saling menyimak (antara Malaikat Jibril dengan Rasulullah).

Setelah Rasulullah wafat, shalat tarawih sempat redup hingga di masa pemerintahan (Khalifah) Sayyidina Umar Ibn Khattab (shalat tarawih) “dihidupkan” kembali dan dilaksanakan di masjid dengan jumlah 23 rekaat. “Aku khawatir sepeninggalan Rasul salat tarawih ini hilang,” (begitu kata Sayyidina Umar).

Demikianlah, Rasulullah memberi teladan kepada umatnya. Rasul tidak selalu shalat tarawih di masjid, kecuali sepuluh hari terakhir. Hal demikian karena Rasulullah khawatir shalat tarawih di masjid dianggap sebagai kewajiban sehingga memberatkan umatnya. Maka sepeninggal Rasul, shalat tarawih sempat redup. Sayyidina Umar, menghidupkan kembali shalat tarawih secara berjamaah dan diselenggarakan di masjid, karena Sayyidina Umar melihat umat Islam melaksanakan shalat tarawih secara munfarid (sendiri-sendiri). Mengenai jumlah rekaat shalat tarawih, Syaikhina melanjutkan,

“Tidak diketahui berapa sesungguhnya jumlah rakaat shalat tarawih beliau (Rasulullah). Sebab, beliau shalat beberapa rakaat kemudian berhenti (atau) rehat sejenak lalu salat kembali. Mengenai shalat (tarawih) berjumlah 11 rakaat, tidak hanya di masa (bulan) Ramadhan (saja), di luar (bulan) Ramadhan pun Rasulullah shalat malam rutin 11 rakaat”

Sementara itu, mengenai tadarus selama bulan Ramadhan Syaikhina menganjurkan agar tadarus al-Qur’an dilaksanakan minimal per dua orang. Satu orang membaca al-Quran, sementara yang lain menyimak bacaan beserta artinya. Hal ini dilakukan agar makna al-Quran dapat merasuk ke dalam sanubari.

Demikianlah ajaran-ajaran Rasulullah sampai kepada para salikin Kasepuhan Atas Angin melalui suhbah Syaikhina. Hal ini sebagaimana tradisi yang berlaku pada zaman Rasulullah. Syaikhina menjelaskan:

“Tabiat (prilaku) para sahabat apabila ditanya mengenai ihwal Rasulullah selalu merekomendasikan kepada orang yang lebih berkompeten sesuai isi pertanyaan. Seperti saat Siti Aisyah ditanya perihal bagaimana kegiatan Rasulullah di luar rumah, Siti Aisyah menjawab “Aku tidak selalu bersama Rasul dalam kegiatannya tanyakan saja kepada Sayyidina Ali yang selalu menemani Rasulullah.”Sebaliknya bila (ada sahabat) ditanya soal kehidupan (Rasulullah) di rumah maka (sahabat tersebut berkata) “tanyakan saja kepada Siti Aisyah.”

Siti Aisyah senantiasa mengarahkan pada sahabat agar bertanya kepada Sayyidina Ali, meskipun sahabat yang sering bersama Rasulullah adalah Sayyidina Abu Bakar, karena Siti Aisyah sangat kenal dengan para sahabat dan ahli bait. Siti Aisyah memahami bahwa Sayyidina Abu Bakar selalu mendampingi dan menemani Rasulullah. Siti Aisyah khawatir jika mengarahkan para sahabat untuk bertanya kepada Sayyidina Abu Bakar dapat menganggu perjalanan Rasulullah. Syaikhina melanjutkan,

“Para sahabat punya kebiasaan bila tidak punya kesempatan menemani Rasulullah maka mereka bertanya kepada sahabat yang menemani Rasul, “apa suhbah yg disampaikan Rasulullah saat engkau menemani beliau?” Rasulullah juga selalu berpesan kepada (para) sahabat yang ber-suhbah untuk menyampaikan suhbah kepada yang tidak hadir. Ballighu ‘anni wa law ayah (sampaikan dariku walau satu ayat).”

Suhbah secara harfiah adalah menemani. Dalam konteks ini menemani Rasulullah, mendengar mutiara-mutiara hikmah dari Rasulullah. Istilah suhbah digunakan dalam Tarekat Naqsyabandi sebagai bentuk ittiba’ kepada Rasulullah. Demikian halnya, suhbah tentang tarawih dan tadarus pada bulan Ramadhan ini.

(Santri Ndalem)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan