Nasihat Guru

Bagi Ahli-Nya, tiada yang paling tampak mencahayai semua peristiwa dan fenomena kehidupan ini kecuali Kekasihnya, Allah. Cermin hatinya yang berkilauan menampilkan Wajah Kekasihnya dengan kesempurnaan yang nyaris mustahil bagi sebagian besar awam. Dari berkas cahaya itulah berkahnya terpancar bagi mereka yang selalu tabbarrukan kepadanya. Sore itu Syekh Muhammad Irfa’i Nachrawi, qs, bersama santri-santri Pondok Pesantren Kasepuhan Atas Angin, Cikoneng, Ciamis, duduk-duduk, sehabis berkerja seharian.

“Pandai-pandailah membagi waktu, musibah datang itu merupakan peringatan dari Allah untuk kita ber-introspeksi diri. Jangan sampai diri kita ini jatuh dalam nasib yang buruk, dikarenakan kita dominan memperturutkan emosi (nafsu) dan jauh dari Allah.”

Bulir-bulir kalimat dari lisan Sang Kiayi perlahan memenuhi ruang terbuka itu. Beliau ini memang khas, di pesantrennya yang mengkhususkan pendidikan tarekat, tidak ada lembaga resmi, tidak ada madrasah berkelas, tidak ada kurikulum tertulis apalagi akreditasi dari pemerintahan. Pendidikan yang diampu oleh beliau diselenggarakan dengan cara mana para salafus solih sejak ratusan tahun silam, yakni para santri di sana memberikan pelayanan dalam kehidupan keseharian. Berkebun!

Kata demi kata merangkai kalimat, Sang Kiayi melanjutkan,

“Adapun membangun jalan ekonomi itu pasti karena kita hidup di dunia, tapi kesibukan pembangunan ekonomi ini jangan mengabaikan/menelantarkan pembangunan diri; diri yang beriman, diri yang Sholih (manusia yang adil dan beradab). Terbangunnya ekonomi yang maju, tanpa diimbangi dengan pembangunan diri yang bermartabat, tidak akan pernah mencapai kesuksesan. Dan kebahagiaan yang sejati.”

Bagi beliau, tidaklah sempurna, bahkan sangat rentan jika manusia hanya berfokus hanya pada satu dimensi pembangunan saja. Jika yang material dikejar-kejar, ditumpuk-tumpuk, diperbanyak, tapi dimensi ruhaninya ringkih, rapuh dan kering maka ini akan sangat berbahaya. Sebab hal ini hanya akan menuntun pada kerusakan.

Sebagaimana yang ditekankan oleh beliau selanjutnya,

“Kesuksesannya, kebahagiaannya tidak langgeng. Karena Sangat bergantungan dengan musim. Musim hujan rejekinya membanjir, musim kemarau rejekinya kering. Akhirnya jalan hidupnya kempas-kempis, tidak stabil. Hidupnya tidak akan bisa beristirahat. Terbuang oleh kesibukan-kesibukan yang tidak jelas sampai akhir hayatnya. Semakin pupuslah kedamaian dalam hidupnya. Hilanglah ketenangan dalam diri, keluarga dan masyarakat.”

Beliau menggambarkan betapa kehidupan di dunia ini sudah ditakdirkan akan selalu berubah. Semua ada waktunya, ada musimnya, ada periodenya. Butuh kestabilan dari dimensi ruhani untuk menyikapi instabilitas dan perubahan-perubahan dimensi duniawi ini. Sebab jika tidak, maka dimensi ruhani justru yang akan tergerus, terbawa dan terserap oleh watak instabilitas duniawi tadi, sehingga akhirnya ia menjadi orang yang terseret-seret oleh keadaan, terpontang-panting oleh situasi karena sudah demikian terikat oleh keadaan hidupnya itu.

Syekh Muhammad Irfa’i kemudian menutup nasihatnya dengan nada keprihatinan akan akibat dari lalainya manusia untuk membangun dimensi ruhaniyahnya.

“Mudah ribut tidak bisa bersahabat dengan baik. Kenapa? Karena dihantui oleh rasa takut sepanjang hidupnya. Dari takut miskin, takut ditinggal suami/istri sampai takut mati. Na’udzubillahi min dzalik.”

Di ufuk Barat, mega merah semburat. Abah, panggilan akrab para murid pada beliau, beranjak sambari memerintahkan para santri untuk merapikan alat-alat kerjanya. Perlahan suara serangga hutan penyambut malam melantun. Dingin khas pegunungan menyapa syaraf. Gelap malam segera menjalankan tugas!

 

Penulis

Ubey

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan