Tarekat adalah metode kehidupan itu sendiri

Bicara-bicara (di lingkungan) majelis ta’lim itu seyogyanya adalah pembicaraan tentang (ilmu) ma’rifat. Bicara-bicara jualan beras, jualan ayam itu termasuk bicara-bicara fitnah masihid dajjal. Kita, oleh guru, diajak untuk hidup (dengan) cara hidup para sahabat di hadapan Rasulullah SAW. Menjadikan ajaran agama ini sebagai wujud diri.

Hidup ini selalu diuji oleh Allah, daya tarik perempuan itu fitnah!, pandemi wabah itu fitnah!. Hadapi ujian Allah ini, dengan, “washbir nafsaka……! Bertahanlah dirimu jangan berpisah dari orang-orang Solih (ikatkan hatimu dengan hati orang solih). Orang-orang yang selalu menyebut asma Allah, berdo’a kepada Allah di pagi dan sore hari (pada awalan pekerjaan dan akhiran pekerjaannya).

Wa la ta’du ainaka…….!, janganlah kamu berpaling (matamu itu) dari orang-orang Solih kepada orang-orang yang menghendaki perhiasan dunia. Wattaba’a hawahu… dan mengikuti kesenangan nafsunya dan akhirnya urusan kehidupannya amburadul.

Kumpul dengan orang-orang bicara agama sudah tidak tertarik, itu namanya orang yang terfitnah. Diajak untuk menegakkan agama Allah itu maksudnya menjadikan agama sebagai jati diri (watak diri/kelakuan diri). Lah, orang ahli agama itu adalah orang yang selalu membayangkan hidup ini selalu bersama Nabiyyin, Shiddiqin dan Solihin. Basah lidahnya untuk membicarakan agama. Tidak kering lisannya karena membicarakan dunia. Anakmu buat apa? Cari duit! Istrimu/suamimu buat apa? Cari duit!

Orang yang Solih itu bisa mendudukkan dirinya. Aku ini bicara dengan siapa? Bisa memantaskan diri, itu namanya orang solih. Perbuatan yang tidak solih (tidak pantas) itu (perbuatan) yang belum beragama. Itu hanya omongan saja.

Abah itu di sini merupakan kesempatan ngajak kamu ribut masalah agama, (membenarkan persoalan-persoalan keagamaanmu). Wujudnya iman itu (salah satunya) adalah suka kebersihan. Bukan ungkapan amantubillah, itu kan lagunya anak TK. Menegakkan agama itu sampai menjadi wujud dirimu. Abah beratnya ini, harus mengadakan prasarana buat kamu (menegakkan agama).

Tetaplah selalu ingat, hidup ini adalah hadiah dari Allah. Untuk apa ada hidup? untuk menguji siapa yang akan berbuat baik di kehidupan ini. Hidup ini dipake untuk apa! Allah perintahkan kita, dihidupkan di dunia untuk menciptakan kemakmuran di bumi raya. Supaya kamu bisa bergembira di dunia ini dan mulia. Berkah Allah itu di dalam bareng-bareng (berjamaah). Manusia ini tidak diciptakan untuk sendirian, manusia adalah Zoon Politicoon. Semua perintah Allah itu demi kesejahteraan dan kemuliaanmu. Allah perintahkan kamu menjaga kebersihan itu demi kamu. Supaya badanmu sehat. Menegakkan agama itu mempraktekkan agama di dalam diri ini.

Ayam itu bangun tidur sampai mau tidur lagi urusannya cuma makan. Itu manusia ayam. Jangan kamu hidup seperti binatang, itu namanya menegakkan agama. Ilahi anta maqsudi (Khalifah), Wa ridloka mathlubi (Abdi). Jangan lantas, kerja terus ngeluh capek.

Agama itu bukan soal menasehati terus-terusan, langsung praktek, agama itu!
Tarik nafas! Allah……….. Berhenti, Allaaah….. Keluarin nafas, Allaaah………….
Hus Dar Dam!!
Itu awal manusia kenal dirinya. Praktekkan! Susahnya di mana? Bisanya dimana? Itulah menegakkan Agama. Umpamanya kamu sakit sehingga tidak bisa melaksanakan tugas, kamu harus tetap beristighfar minta maaf walau secara syariat rof’ul qolam (pena malaikat pencatat amal sedang diangkat). Bukan malah kamu merasa merdeka, itu malah dinina-bobokkan setan.

Hus dar dam itu latih terus-menerus, biar kamu ingat bahwa hidup ini adalah dalam rangka melaksanakan tugas agama. Kalau kamu punya duit, ilahi anta maqsudi dahulu! Jangan bicara itu duitmu, Allah nggak ridlo. Allah itu robbul alamin. Yang memiliki seluruh alam ini. Naqsyabandiyah itu punya bahasa sendiri yakni bahasa jiwa. Kamu dikasih abah pekerjaan, yakni Dzikir Lathifah. Pekerjaan orang Naqsyabandi itu berdzikir kepada Allah. Jadi Hus dar dam, Nadzor bar qodam dan seterusnya itu, jadikan sebagai plang dirimu (merkmu) supaya kamu mudah dalam melaksanakan wukuf zamani.

Lau kunna nasma’u aw na’qilu….. (andai kamu mau mendengar dan memikirkan…)
Abah itu tidak menjadikan toriqoh ini sebagai toriqoh dzikir (belaka) tapi menjadikannya sebagai metode kehidupan itu sendiri. Kalau Hus dar dam berjalan kamu punya kekuatan spiritual (Ruhani). Pondasi dari ruhani itu adalah ruhul hayawani, energi kehidupan. Maka, Hus dar dam ini merupakan ruh dalam pendidikan toriqoh Naqsyabandi.

 

Santri ndalem

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan